Beauty Parenting, Mengasuh "koboy" jaman now

Mengasuh "koboi" Jaman Now 


Hai. Happy weekend buat semua.
Pas banget nih, Saya menulis tentang parenting ini, di hari Minggu.
Hari minggu, yang kata kebanyakan Orang disebut hari keluarga.
Padahal mah hari keluarga ada sendiri ya. Hehe.

Sebelum Saya masuk ke topik. Saya yakin, bahwa di dunia ini, seluruh Ibu mencintai Anak-anaknya.
Seluruh Ibu, menginginkan yang terbaik untuk Anaknya. Dan seluruh Ibu, adalah Ibu terhebat untuk Anaknya.
Setuju?. Setujulah ya, hehe, maksa.

Saya pun percaya setiap Ibu itu hebat, setiap Ibu itu unik, dan hanya Ibu yang mengerti sifat dan sikap Anakknya.
Alhamdulillah, Saya sendiri dititipi ALLAH dua koboi jaman now, yang selalu memberikan Saya pelangi kehidupan setiap harinya.

Dua orang koboi jaman now, yang bertolak belakang karakternya. Yang cara memperlakukannya dan membersamainya pun harus berbeda.
si sulung, lebih kalem daripada Adeknya yang hyperaktif.





Pada tulisan ini, Saya tidak akan membahas lebih dalam tentang karakter dua koboi Saya.
Namun, Saya akan sharing sedikit pengalaman Saya dalam mengasuh Mereka, mandiri dan tanpa bantuan ART.

Sebagai Ibu yang memiliki dua Orang Anak laki-laki di jaman now.
Tentu ekspektasi Saya adalah mendidik dan membantu Mereka untuk tumbuh, berkembang, dan bersikap bagaimana semestinya laki-laki.
Saya mengatakan ini karena, mohon maaf,di jaman now ini, faktanya banyak laki-laki yang keibu-ibuan.

Anak laki-laki yang lemah gemulai, mengenakan heels, dan menjinjing tas wanita dengan gaya berjalan yang melenggak-lenggok bak peragawati.
Bahkan, sangat mudah Kita jumpai, Laki-laki dewasa yang akhirnya lupa kodratnya bahwa suai adalah tulang punggung keluarga. Na'udzubillahmmindzalik.

Kenapa bisa fenomena itu terjadi?. Orang bilang itulah tanda akhir zaman. Meski begitu, semestinnya semua bisa ditanggulangi jika, Anak Laki-laki dididik dan diperlakukan sebagaimana mestinya.
Contoh, membiarkan Anak Laki-laki belajar mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.



Kebanyakan orang tua, melarang Anak laki-lakinya mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan dalih, khawatir jatuh,terluka,lalu sakit.
Padahal, sakit itu hanya sebentar. Luka pun bisa diobati. Namun membentuk jiwa pejuang yang tangguh demi masa depannya nanti harus dilakukan sedari dini.

Kehidupan semakin kekinian semakin keras, jika Anak Laki-laki tumbuh menjadi anak yang penakut, bermental lemah. Siapa kelak yang akan berjuang dan melindungi keluarganya?.
Saya bukan ahli psikologi. Saya hanya belajar dari pengalaman Orang lain dan pengalaman pribadi. Namun, tahap eksplorasi bisa disesuaikan dengan usia dan kondisi Anak.

Menurut psikolog  Dra.Ratih Ibrahim,MM." Eksplorasi menjadi hal yang penting dalam membentuk kepribadian Anak".
Saat anak bereksplorasi, kemampuan motorik akan meningkat. Kondisi ini juga mampu meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri Anak.
Bila perlu, Orang tua juga terlibat dalam kegiatan eksplorasi anak, bukannya malah melarang.
Karena, tindakan tersebut malah dapat membatasi kemampuan anak di masa depan. ( dikutip dari lifestyle.okezone.com)



Berikut ini adalah beberapa risiko bila orangtua terlalu banyak melarang anak.

Penakut
Ketika pergerakan anak terlalu dibatasi mereka jadi tidak bebas berekspresi. Sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang minder.
Misalnya, ketika dulu mereka senang memasak, namun orangtua melarang karena tak ingin anak terkena bahaya kompor atau pisau,
maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang takut ketika akan memulai suatu hal baru.

Pemalas
Tidak masalah sebetulnya jika orangtua membiarkan anak membantu pekerjaan orangtua atau mengerjakan tugas mereka sendiri,
seperti mencuci piring atau mencabut rumput liar di taman.
Namun, karena orantua tidak ingin anak memecahkan piring atau main kotor di taman, maka yang terjadi adalah anak kehilangan gairah untuk beraktivitas.

Tidak percaya diri
Saat orangtua terlalu mengekang anak dalam banyak hal, efeknya adalah anak menjadi tidak percaya diri.
Mereka tidak percaya dengan kemampuan yang mereka miliki karena untuk mencoba saja, orangtua meragukannnya.
Untuk itu, sebaiknya orang memberi kesempatan pada anak dalam mencoba hal-hal baru.
Dengan catatan, orangtua mengawasi dan mengingatkan anak untuk selalu berhati-hati.
Demikian dikutip Familyshare, Rabu (16/9/2015).(https://lifestyle.okezone.com/read/2015/09/16/196/1215057/dampak-terlalu-sering-melarang-anak)




Komentar

Postingan Populer